Membuat Pantat Lebih Sexy

Posted in Tip & Trik, Wanita dengan kaitan (tags) , on Juni 12, 2009 by mayapadha

Ingin memakai pencil skirt saat ke kantor, tetapi kok enggak pedeya? Bokong yang kurang berisi membuat rok semacam itu terlihat sedikit kedodoran di bagian belakang. Bahkan, memakai jeans saja tidak menolong penampilan Anda.

Ada berbagai cara untuk membuat bokong Anda terlihat lebih berisi, baik yang instan maupun yang melalui kerja keras lebih dulu:

1. Olahraga. Mulailah berolahraga yang berfokus untuk melatih otot bokong, paha, dan pinggul. Area ini dapat membantu membentuk dan mengencangkan bokong. Latihan otot terbaik adalah squat jump dan jalan cepat. Berjalan atau berlari ke tempat yang lebih tinggi juga baik, karena paha juga akan lebih kencang, membantu perbedaan antara paha bagian atas dengan dasar bokong Anda. Latihan lain yang bisa Anda lakukan adalah melangkah berganti-ganti di tangga.

2. Perhatikan bagaimana berat Anda bertambah atau berkurang. Hal ini bisa membantu menambah berat pada bagian bokong. Perhatikan di mana Anda mulai menambah berat badan pada awalnya, apakah di bokong, perut, atau lengan? Jika lengan lebih dulu membesar, Anda dapat membuat lingkar pinggang Anda lebih ramping sehingga bokong terlihat lebih besar.

3. Pakailah pakaian yang dapat menonjolkan bentuk tubuh Anda. Rok model A-line (mengembang) adalah jenis yang dapat menyembunyikan apa yang ingin Anda tutupi, dan menonjolkan yang baik. Rok seperti ini akan membuat pinggang dan kaki terlihat lebih langsing, dan menyamarkan bokong Anda. Masukkan atasan Anda ke dalam rok untuk, sekali lagi, merampingkan pinggang, dan membuat bokong lebih bervolume. Anda juga bisa memakai dress yang dilengkapi belt, untuk menciptakan lekukan dan membagi tubuh Anda ke dua bagian yang berbeda.

4. Wanita yang bertubuh curvy (pinggul dan bokong penuh) selalu menghindari rok atau pakaian berlipit, saku bertutup, atau dekorasi lain. Gaya yang mereka hindari, sebaliknya akan cocok untuk yang bertubuh “rata”. Anda juga bisa memakai pakaian yang sedang ngetren, seperti yang menggunakan ruffle, tier, atau frill, yang tidak bisa dipakai oleh yang bertubuh montok. Yang tidak boleh Anda kenakan adalah celana panjang lurus dalam warna gelap karena memberi kesan lebih merampingkan.

5. Pakai butt pads, atau bantalan bokong. Prinsip butt pads sama dengan bra pads, yaitu untuk memberi kesan penuh pada bokong. Butt pads bisa Anda peroleh di bagian pakaian dalam di department store, kadang-kadang menjadi satu dengan korset. Tenang sajalah, di zaman seperti ini perusahaan pakaian sudah sangat memahami kebutuhan wanita. Jadi apa pun keluhan Anda, mereka sudah menyediakannya!

Kunyit Hambat Tumor

Posted in Tip & Trik dengan kaitan (tags) , , on Juni 12, 2009 by mayapadha

- Sering digunakan untuk bumbu kari, kunyit merupakan salah satu bumbu alami yang bisa membantu mengatasi radang. Dilaporkan oleh majalah Prevention, bahwa kunyit mampu membunuh sel-sel kanker, menunda pertumbuhan tumor, dan bahkan mendorong efektivitas kemoterapi. Beberapa riset menemukan bahwa kunyit efektif jika dicampur dengan lada hitam dan dicampur minyak (zaitun atau kanola).

Namun kunyit yang sudah diolah dalam bentuk bubuk hanya mengandung 20 persen dari total kandungan aslinya. Jadi, lebih baik gunakan kunyit yang belum diolah, kemudian buat sendiri.

Caranya: Campur 1 sendok teh kunyit dengan 1 sendok teh minyak zaitun dan sedikit lada hitam bubuk, lalu tambahkan pada sayuran, sup, atau saus salad.

16 Kriteria Kemiskinan (Jika memenuhi salah satu kriteria dikategorikan sebagai “miskin”)

Posted in Berita, Ekonomi dengan kaitan (tags) , , on Mei 22, 2009 by mayapadha

1. Hidup dalam rumah dengan ukuran lebih kecil dari 8M2.
2. Hidup dalam rumah dengan lantai tanah atau lantai kayu berkualitas rendah.
3. Hidup dalam rumah dengan dinding terbuat dari kayu berkualitas rendah.
4. Hidup dalam rumah yang tidak dilengkapi dengan WC.
5. Hidup dalam rumah tanpa listrik.
6. Tidak mendapatkan fasilitas air bersih.
7. Menggunakan kayu bakar, arang atau minyak tanah untuk memasak.
8. Mengkonsumsi daging atau susu seminggu sekali.
9. Belanja satu set pakaian baru setahun sekali.
10. Makan hanya sekali atau dua kali sehari.
11. Tidak mampu membayar biaya kesehatan pada Puskesmas terdekat.
12. Pendapatan keluarga kurang dari Rp. 600.000,- per bulan.
13. Pendidikan Kepala Keluarga hanya setingkat Sekolah Dasar.
14. Memilik tabungan kurang dari Rp. 500.000,-
15. Mempekerjakan anak di bawah umur.
16. Tidak mampu membiayai anak untuk sekolah.

CIRI-CIRI KEHAMILAN

Posted in Kesehatan, Wanita dengan kaitan (tags) , on November 15, 2008 by mayapadha

Seorang wanita tak menyadari datangnya kehamilan, terutama kala usia kehamilan masih muda.
Kehamilan yang tak disadari bisa membuat pertumbuhan janin terhambat, jadi kuddu hati-hati…
Contoh kasus..yang sering terjadi Ny. Wati-> contoh tokoh yg di bahas… Suatu hari Ny. Wati mengalami perdarahan di luar jadwal haidnya. Karena darah yang keluar cukup banyak, ia pun berkonsultasi dengan dokter kebidanan dan kandungan. Usai pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa dirinya mengalami keguguran. “Keguguran? Jadi, saya ini hamil, Dok?
Berapa bulan? Kok, saya tak merasa kalau saya hamil,” teriak Ny. Wati terkejut.

Ny. Wati tak sendirian mengalami peristiwa tersebut. Cukup banyak, kan, di antara kita yang tak menyadari kalau dirinya hamil, tahu- tahu kehamilannya sudah besar. Bahkan ada yang bayinya sudah meninggal di dalam rahim tanpa dia sadari atau tahu-tahu mengalami keguguran.

FAKTOR ALPA

Umumnya wanita tidak menyadari kehamilannya karena haidnya tidak teratur. “Misalnya pada orang-orang yang mendapat haid 3 bulan sekali atau bahkan 4 bulan sekali. Jadi, saat haidnya berhenti, ia tak menyadari bahwa itu suatu kehamilan. Dikiranya haidnya terlambat seperti biasanya.”
Selain itu, kehamilan tak diketahui juga terjadi pada wanita yang memakai kontrasepsi pil atau suntik yang tidak tepat waktu. “Lupa minum pil atau terlambat datang untuk suntik. Misalnya, seharusnya tanggal 10, datang untuk suntik, tapi baru tanggal 13 ia datang. Nah, kalau pada hari-hari alpa ia berhubungan seks, maka bisa saja terjadi kehamilan.” Sebab saat menggunakan KB, keseimbangan hormonnya tetap berada di atas. “Nah, kalau ia tiba-tiba tak memakai KB, maka hormonnya sempat turun. Kalau ia berhubungan saat keseimbangan hormonnya tak karuan, maka bisa terjadi kehamilan.”
Karena merasa ber-KB, wanita tersebut tak menyadari kalau dirinya sudah hamil.

Bisa juga bukan lantaran alpa, tapi karena pil kontrasepsi mengalami gangguan fungsi. “Berfungsi bagus bila ibu dalam keadaan sehat. Kalau sedang diare atau mengalami gangguan pencernaan, bisa saja mempengaruhi penyerapan pil kontrasepsi itu. Nah, di situ bias terjadi kehamilan.” Terlebih lagi kalau saat itu si ibu meminum obat- obatan antibiotik untuk diarenya sehingga mengganggu penyerapan pil kontrasepsi. “Obat-obatan golongan tetrasiklin bisa membuat efektivitas dari kontrasepsi menurun. Selain itu, golongan obat analgetik juga berdampak sama. Pokoknya, hati-hati pada obat-obatan yang dimakan setelah kita makan nasi.” Untuk mengatasi itulah, saran Chairulsjah, jika kita sedang memakai pil kontrasepsi dan mengalami gangguan pencernaan, usahakan dibarengi dengan proteksi cara lain, misalnya dengan kondom. “Sebab, seringkali si ibu tetap merasa safe karena dirinya telah ber-KB, ternyata bisa jebol juga.”

Pemakaian KB IUD atau spiral bukan berarti tak jadi masalah, lo. “Terkadang si ibu tak menyadari kalau spiralnya lepas. Misalnya, saat haid sedang banyak, bisa saja spriral keluar tanpa disadarinya.” Spiral mudah terlepas terutama bila ukuran mulut rahim ibu lebih besar dari ukuran spiralnya. “Apalagi bagi ibu yang anaknya sudah banyak biasanya, kan, ukuran mulut rahimnya melebar, sehingga IUD bisa lepas tanpa disadari.” Bisa juga karena kontrasepsinya gagal alias tak berfungsi dengan baik.

Selain itu, wanita karier yang terlalu sibuk juga seringkali tak menyadari kehamilannya. “Mereka punya kecenderungan seperti ini. Ditambah lagi kalau ada perubahan ovulasi dari wanita tersebut, misalnya, karena stres atau tekanan kerja yang meningkat, sehingga ovulasi bisa lebih cepat atau terlambat. Mungkin dipikirnya saat ini tak ovulasi, sehingga ia pun berhubungan seks. Ternyata justru salah perhitungan sehingga bisa terjadi kehamilan.”

CIRI-CIRI KEHAMILAN

Sebenarnya, terang Chairulsjah, seandainya wanita tanggap dan memperhatikan perubahan yang terjadi pada tubuhnya, maka kehamilan tersebut pasti akan segera diketahuinya.

Ciri-ciri wanita hamil itu, kan, tidak lagi mendapat haid, mengalami gejala-gejala morning sicknes, seperti rasa mual, pegal-pegal, lemas, serta payudara terasa tegang dan sakit. Hampir 85 persen wanita hamil, terang Chairulsjah, akan mengalami morning sicknes akibat adanya perubahan hormonal, yang akan menurun dengan sendirinya di akhir trimester I.

Memang, aku Chairulsjah, wanita karier yang teramat sibuk seringkali tidak memperhatikan perubahan ini. Terlebih lagi, sebelum kehamilan berusia 5 bulan memang belum terlihat perubahan di perutnya. “Baru setelah berusia 5 bulan, si ibu bisa merasakan gerakan si bayi di perutnya.”

Ketika berbagai gejala muncul, seperti haid tidak lancar, badan pegal-pegal, dan mual-muntah dikiranya karena kecapekan kerja. Namun demikian, terang Chairulsjah, bila si wanita care dengan tubuhnya, maka setiap perubahan akan terasa. “Misalnya ia bisa merasakan perubahan payudaranya yang terasa tegang, sakit, serta membesar.”

Selain itu, perubahan hormonal yang terjadi ketika hamil bias mengakibatkan keputihan yang hebat. “Yang tak bisa dielakkan pula dari wanita berbadan dua adalah si ibu akan merasakan frekuensi kencingnya lebih meningkat.”

Jadi, perubahan tubuh itu seharusnya tak bisa diabaikan begitu saja oleh si wanita. “Hanya wanita yang benar-benar tidak care pada tubuhnya yang sampai lolos dengan perubahan ini.”

Namun wanita tak menyadari kehamilannya paling lambat hingga usia kehamilan 3 bulan. “Sesudah itu, tak mungkin jika ia sampai tak merasakan. Karena payudara dan perut akan semakin membesar, janin juga sudah mulai bergerak, serta frekuensi keinginan untuk kencing juga semakin meningkat.”

OKSIGENISASI

Akibat ketidaktahuan si ibu akan kehamilannya jelas akan bermasalah buat janin. Misalnya, wanita karier yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tak menyadari kehamilannya. “Nah, kesibukan yang tinggi bisa membuatnya sering telat makan. Ditambah lagi tingkat stresnya yang tinggi, sehingga bisa saja oksigenisasi ke janin jadi terganggu.”

Terlebih lagi bila dibarengi dengan kebiasaan merokok pada si ibu. Nah, karbon monoksida yang terdapat pada rokok membuat hemoglobin si ibu sulit untuk mengikat oksigen, sehingga terjadilah hipoksi jaringan. Bukan itu saja, nikotinnya juga dapat membuat kontriksi/penyempitan pembuluh darah, sehingga otomatis aliran darah ke janin juga berkurang. “Nikotin dan karbon monoksida juga membuat gangguan penyerapan di tempat calon ari-arinya, sehingga kemampuan penyerapan dari sel-sel membran di plasenta terganggu. Dengan demikian, aliran makanan ke bayi juga terganggu.”

Selain itu, orang yang merokok punya kecenderungan nafsu makannya berkurang. Otomatis, penyerapan makanan pada si janin juga jadi berkurang, sehingga ada kemungkinan bayinya tak bisa berkembang, entah itu mengalami keguguran atau meninggal di dalam kandungan. “Padahal orang hamil, kan, harus mengkonsumsi gizi cukup; makan vitamin, minum susu, hidup teratur. Nah, kalau ia sibuk terus dan tak memperhatikan kehamilannya, bisa mengakibatkan pertumbuhan janin terhambat, kan?”

Selain itu, aktivitas yang meningkat juga membuat energi ibu berkurang. “Akibatnya, oksigenisasi ke janin juga terhambat. Bayi bisa mengecil dan meninggal di dalam kandungan.”

Yang harus diingat pula, trimester pertama kehamilan adalah masa embriologis; pembentukan organ tubuh dan kelamin bayi. Bila ada gangguan, bisa saja terjadi kecacatan pada bayi, seperti tak punya kepala, perut kosong, tak bertelapak atau tangan pendek, telinga hanya satu, dan sebagainya.

Selain itu, kalau orang tak menyadari kehamilannya, bisa saja ia melakukan foto rontgen demi kepentingan pekerjaan atau lainnya. “Hal ini bisa mengakibatkan gangguan kromosom, misalnya mutasi gen pada janin. Bila terjadi pada kromosom 21, mungkin saja akan muncul sindroma down.”

Ibu yang tak menyadari kalau dirinya hamil juga akan dengan santainya mengkonsumsi obat-obatan kala dirinya terkena penyakit, seperti batuk-pilek. “Padahal pada obat-obatan batuk-pilek yang mengandung antihistamin bisa membawa dampak terjadinya bibir sumbing pada si janin.” Atau si ibu minum obat streptomycine untuk sakit paru-paru yang membawa dampak gangguan pada telinga bayi, obat
tetracycline yang bisa mengganggu tulang-tulang dan gigi menjadi kuning, atau kalau kebetulan dirinya sakit typus meminum obat chloremphimicol, yang mengakibatkan bayi mengalami gangguan pigmen, seperti grey baby (bayinya berwarna abu-abu).

Mengingat dampak minum obat sembarangan sangat besar buat janin, tak heran ibu hamil selalu dianjurkan untuk selalu memberitahu dokter lain -selain dokter kandungannya- kalau dirinya tengah hamil. “Tujuannya untuk mengurangi kejadian tak diinginkan pada bayi.”

TETAP SEHAT

Memang, aku Chairulsjah, bukan tidak mungkin terjadi kendati si ibu tak menyadari kehamilannya, janinnya tetap sehat-sehat saja. “Kendati tidak ada persiapan khusus, asalkan ibu tetap menjaga kebutuhan tubuhnya. Istirahat juga cukup. Ia tak mengkonsumsi obat- obatan yang dapat mengganggu kesehatan janinnya sehinga kebutuhan janin tetap tercukupi.” Walaupun demikian, saran Chairulsjah, sebaiknya kehamilan direncanakan dan dipersiapkan sedini mungkin.

PERIKSA KE DOKTER

Begitu menyadari kehamilannya, segera periksa ke dokter kandungan. Dokter akan melakukan pemeriksaan lengkap, termasuk pemeriksaan darah dan USG. “Dari situ akan ketahuan, apakah janinnya berada dalam pertumbuhan yang baik atau tidak. Kalau ingin mengetahui kemungkinan apakah janinnya cacat atau tidak, perlu dilakukan pemeriksaan alpha betha protein dari darah janin atau air ketuban.”

Bila janin tidak ada masalah, maka pemeriksaan akan dilakukan sebagaimana biasanya. Yang penting ibu harus segera mengubah pola hidup dengan makan bergizi seimbang, istirahat cukup, dan bila perlu mengkonsumsi vitamin. Tujuannya untuk memperkecil segala risiko. Sebaliknya bila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kecacatan, ya, tak bisa diapa-apakan lagi. “Jadi, tak ada pemeriksaan khusus untuk
mengejar ketinggalan. Sebab perawatan kehamilan bukan merupakan pertambahan matematis; bila kekurangan selama 3 bulan bisa diburu dengan segala macam terapi untuk bisa mengimbanginya.” Mengimbangi dari segi ukuran, mungkin bisa, misalnya kalau bayinya IUGR (pertumbuhan janin terhambat). Tapi, tak bisa mengimbangi dari segi maturitas jaringan karena sudah terbentuk.

Nah, Bu, masih berani tak acuh lagi padahal ada banyak tanda-tanda kehamilan bila kita selalu care dengan segala perubahan di tubuh sendiri?

YANG HARUS DIPERHATIKAN

Karena dampak kehamilan tak kecil, Chairulsjah, memberi saran bagi kaum ibu:

* Selalu memperhatikan perubahan fisik tubuhnya.

* Listen to the body. “Dengarkan” tubuh Anda

Jangan memaksakan diri dalam bekerja. Kalau tubuh sudah terasa lelah, segeralah istirahatlah sehingga kalau ternyata hamil, janin masih bisa tertolong karena oksigenisasi tidak berkurang.

* Jangan lalaikan kesehatan tubuh. Makan teratur; jangan biasakan pola makan yang tidak benar, misalnya, menunda atau tidak makan siang karena tanggung sedang sibuk bekerja.

* Perhatikan siklus haid Kalau sudah dua kali tak kunjung datang haid, segera periksa ke dokter. Jadi bila terjadi kehamilan atau ada suatu penyakit, lebih cepat terdeteksi. Dengan demikian, kerugian akibat obat-obatan, rontgen, maupun kurang gizi akan berkurang. Si ibu bisa menjaga
kehamilan lebih cepat.

* Jangan bekerja dalam kedaan tergesa-gesa. Misalnya, naik tangga sambil berlari. Sebab, kalau tanpa disadari ternyata dirinya hamil, dan ia naik tangga tergesa-gesa, maka ada ada kemungkinan akan jatuh terpeleset yang bisa mengakibatkan keguguran. Namun jika kita melakukan gerakan-gerakan lebih tenang dan lambat, maka bila tak menyadari kehamilannya, tetap bias terhindari hal-hal tak diinginkan tersebut.
Indah “Sumber: Tabloid Nakita

Adakah orang yang tidak pernah berbohong?

Posted in Kazanah dengan kaitan (tags) , on November 15, 2008 by mayapadha

Mari mengajukan pertanyaan sederhana: Adakah seseorang yang tidak pernah berbohong selama hidupnya? Rasa-rasanya kita akan bersepakat dengan jawaban ‘tidak ada’. Saya hampir yakin bahwa semua orang pernah berbohong, minimal sekali dalam hidupnya. Dan jujur saja, saya pernah berbohong. Bagaimana dengan Anda? Maukah kali ini jujur menjawab pertanyaan saya? Apakah Anda pernah berbohong? Tidak… tidak saya tidak sedang mencoba ‘membongkar’ kepribadian Anda. Bukan juga bermaksud menyepelekan taraf moralitas Anda, tapi saya kok, 90% yakin kalau Anda pernah berbohong. Apakah Anda pernah berniat membohongi seseorang untuk menghindari kesulitan yang datang pada Anda? Misalnya Anda mengatakan tidak memiliki uang pada saat seorang teman ingin meminjam uang. Anda tahu akan kesulitan menagihnya jika teman Anda itu dipinjami. Tapi mengapa harus berbohong mengatakan tidak memiliki uang, kenapa tidak jujur saja mengatakan keberatan meminjamkan uang karena tidak percaya padanya? Apakah Anda takut menyakiti perasaannya sehingga Anda berbohong tidak punya uang? Mungkin saja Anda sangat percaya bahwa teman Anda pasti akan mengembalikan uang yang dipinjam, tapi Anda hanya memiliki sedikit uang yang apabila dipinjamkan maka akan mengalami kesulitan. Apa yang akan Anda lakukan? Mengatakan sejujurnya bahwa memiliki uang tapi tidak bisa dipinjamkan atau mengatakan tidak memiliki uang? Mana pilihan Anda? Apakah Anda pernah menjenguk orang sakit parah dan mengatakan, “Anda akan segera sembuh”, padahal Anda tahu si sakit akan lama sembuh. Jika ya, maka Anda telah berbohong. Rasanya kok jarang yang mau mengatakan, “Anda akan sembuh dalam jangka waktu amat lama.” Demi menenangkan hati si sakit maka diucapkanlah perkataan bohong itu. Apakah Anda sering memuji seseorang? Nah, ingat-ingatlah apakah pujian Anda itu benar-benar berlandaskan fakta yang Anda yakini benar atau kebohongan demi menyenangkan seseorang? Anda mungkin akan mengatakan baju yang dipakai pacar Anda sangat bagus padahal Anda menilainya norak. Anda mungkin akan mengatakan teman Anda brilian, tapi dalam hati diam-diam Anda mengatakan ‘dongok’. Apabila diminta mengomentari cara berpakaian seseorang, calon mertua misalnya, apa yang akan Anda katakan? Saya agak yakin kalau Anda akan mengatakan bagus meskipun Anda menilainya jelek. Ingatlah hari-hari yang telah Anda lalui. Anda akan mengingat kebohongan yang telah Anda lakukan, mungkin malah cukup sering. Sebagian dari kebohongan itu membuat Anda merasa bersalah seperti berbohong tidak selingkuh padahal selingkuh. Sebagian yang lain membuat Anda merasa lega seperti berbohong mengatakan masakan pacar enak padahal asin minta ampun. Beberapa kebohongan malah tidak disadari seperti memberi semangat si sakit. Pendek kata, setiap hari kita dihadapkan pada situasi yang memberikan peluang untuk berbohong.

Kaum muslim meyakini 100% bahwa nabi Muhammad adalah sejujur-jujurnya manusia. Namun toh beliau tahu bahwa kebohongan adalah bagian dari hidup manusia. Buktinya, meskipun mengutuk kebohongan, kelonggaran untuk berbohong tetap diberikan. Menurut Beliau, berbohong untuk kebaikan itu boleh dan sah. Hanya saja sejauh mungkin diupayakan untuk tidak berbohong. Ini artinya Beliau menyadari memang sungguh sulit untuk sama sekali tidak berbohong sepanjang hayat. Kiranya hanya orang-orang suci yang bisa melakukannya. Jadi ini menambah keyakinan saya untuk menyimpulkan nyaris tidak ada manusia yang tidak pernah berbohong dalam hidupnya. Oleh karena itu pertanyaan yang paling tepat untuk diajukan bukannya apakah Anda pernah berbohong, tapi kapan Anda berbohong dan apa kebohongan Anda.

Masyarakat yang Sakit

Posted in Kazanah dengan kaitan (tags) , on November 15, 2008 by mayapadha

…….mengapa umat manusia, bukannya memasuki kondisi manusia yang sejati, justru tenggelam ke dalam barbarisme baru.

Secara sadar kita merasakan bahwa saat ini masyarakat sedang dalam kondisi sakit. Dengan kata lain, masyarakat dilanda krisis multi dimensi yang menghebat. Masyarakat telah kehilangan pegangan hidup karena tumbangnya aturan sosial (social order) lama, sedangkan aturan sosial baru belum lahir. Andaikata social order yang baru telah terbentuk, pun belum kokoh untuk dijadikan pegangan hidup masyarakat. Keadaan seperti inilah yang kemudian dalam kaca surya kanta ilmu sosial sering dinamakan dengan periode anomali. Yakni suatu masa di mana masyarakat berada dalam kondisi kebingungan akibat serba ketidakpastian yang kadang-kadang membuatnya menjadi beringas.
Kebringasan sosial telah menjadi catatan tersendiri sebagai nota bukti bahwa masyarakat benar-benar sakit, dalam taraf sekarat, mungkin hampir mati. Riak-riak konflik menyeruak di tengah masyarakat. Sulit untuk dikalkulasi ongkos yang harus dibayar akibat adegan konflik yang berkepanjangan selama ini, karena tingginya intensitas konflik dan meluasnya konstituen konflik. Konflik yang marak terjadi dalam kurun waktu lima tahun terakhir telah menciptakan jutaan pengungsi yang nelangsa, ribuan anak terlantar tanpa kehidupan layak, timbulnya gelombang pengangguran, ledakan kemiskinan, dan kebodohan massal.
Liberalisasi yang dijalankan untuk menyongsong era perdagangan bebas tahun 2010 mendatang turut memperparah kondisi masyarakat yang sedang sakit ini. Di mana penjajahan terhadap alam pikiran dan kesadaran sedang terjadi, sehingga masyarakat kehilangan nalar dan otonomi pikirannya. Masyarakat yang kehilangan nalar dan otonomi pikiran oleh C. Wright Mills, anak nakalnya sosiologi Amerika Serikat yang berperspektif kritis, disebutnya sebagai robot-robot girang (cheerful robot) yang distir oleh kaum penguasa kapital, sutradara liberalisasi. Tanpa pernah disadari kalau hilangnya nalar dan otonomi pikiran menjadi persoalan serius, karena penjajahan nalar dan pikiran bekerja pada level bawah sadar. Sehingga masyarakat merasa dalam keadaan baik-baik saja, meskipun mereka selalu ditindas dan dijadikan kaum penggembira semata.


Tenggelamnya Ilmu Sosial

Posted in Kazanah dengan kaitan (tags) , on November 15, 2008 by mayapadha

Sakitnya masyarakat bukan tanpa sebab, pasti ada rangkaian yang membuatnya dalam kondisi krisis yang memprihatinkan. Tulisan ini tidak akan mendedah penyebab sakitnya masyarakat secara menyeluruh. Setidaknya gugatan terhadap peranan ilmu-ilmu kemasyarakatan dalam menyelesaikan persoalan masyarakat akan mampu memberikan gambaran terang seputar sakitnya masyarakat kita. Karena ada dugaan, bahwa ilmu kemasyarakatan juga turut andil dalam proses pembusukan masyarakat.
Anggapan yang berkembang saat ini, bahwa ilmu-ilmu kemasyarakatan baik ekonomi, politik, sejarah, maupun sosiologi telah gagal. Ilmu kemasyarakatan yang lebih lazim disebut dengan ilmu sosial, dan tulisan selanjutnya akan menggunakan term tersebut, dirasa berada dalam keadaan tenggelam. Artinya, ilmu-ilmu sosial sendiri dalam keadaan krisis, kehilangan jati diri, kurang confidence, dan yang jelas tidak mapan.
Berbicara soal perkembangan ilmu sosial, dalam konteks Indonesia, belum terjadi kemajuan yang signifikan. Meskipun gegap gempitanya semangat reformasi telah membuka kran informasi dan komunikasi, di mana seharusnya kebutuhan akan perkembangan wacana sosial, perspektif dan teori-teori baru dapat terpenuhi. Dalam keadaan yang lebih kondusif bagi perkembangan ilmu seperti saat ini, jika dibandingkan dengan jaman Orde Lama dan Orde Baru yang melakukan penetrasi terhadap perkembangan ilmu dan ilmuwan sosial, seharusnya ilmu-ilmu sosial mulai bergeliat.
Ilmu sosial benar-benar mengalami ancaman serius, bukan sekedar ancaman kemandegan yang berarti masih bisa punya harapan untuk kembali ditegakkan, melainkan ancaman kematian ilmu sosial. Di mana ilmu sosial kehilangan hakekatnya sebagai sebuah ilmu pengetahuan. Dan salin rupa menjadi sebuah kekuatan rezim yang membela kekuasaan dan meninggalkan realitas masyarakatnya. Ancaman serius bagi ilmu sosial, baik ancaman kemandegan ataupun kematian, secara geris besar terletak pada dua hal. Pertama, krisis ilmu sosialnya itu sendiri. Kedua, krisis pada ilmuwan sosialnya.
Dalam tataran krisis ilmu sosial, berarti kita membicarakan epistemologi dan jati diri dari ilmu. Jati diri ilmu sosial di Indonesia yang berkembang saat ini tidak pernah bisa lepas pada; pertama, status Indonesia sebagai negara bekas jajahan. Selama tiga setengah abad dijajah, ilmu sosial Indonesia tidak bisa berkembang sesuai dengan dinamika internalnya. Melainkan lebih ditentukan oleh dinamika eksternalnya. Ilmu sosial yang ada merupakan warisan penjajah jahat Eropa, sehingga diibaratkan ilmu sosial sekedar menggantung. Yakni tidak mampu menterjemahkan persoalan-persoalan sosial karena memang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakatnya.
Kedua, persoalan mendasar yang menentukan langkah gerak ilmu sosial terletak pada roh yang menjiwainya. Menyoal yang mengompori ilmu sosial, kalangan teori kritik masyarakat yang akrab disebut teori kritik, menyebutkan bahwa roh positivisme telah menghegemoni perkembangan ilmu sosial. Dugaan roh positivisme menyusup pada ilmu sosial di Tanah Air pun tak terelakkan. Dugaan itu bukan tanpa sebab, mengingat pemikiran-pemikiran Rostow mengenai The Stages of Economic Development juga tesis Talcott Parson tentang sistem sosial telah mengepung alam pikiran ilmu sosial kita. Arus pemikiran yang evolutif atau pragmatis merupakan dua hal yang populer di kalangan ilmuwan sosial kita. Dan akar dari kedua pemikiran tersebut tidak lain dapat kita temukan dalam tradisi berpikirnya positivisme. Lebih lanjut seputar roh positivisme akan dibahas kemudian.
Ketiga, korporatisasi negara sebagai formula politik represif yang dianut rezim Orde Lama dan Orde Baru telah mematikan kreatifitas ilmuwan sosial untuk memutar dinamika ilmu sosial. Sangat naif jika ilmu sosial diharapkan maju, sedangkan negara dengan represifitasnya memungut pajak buku, mempersempit ruang publikasi wacana, memberangus budaya dialektika, dan mengharamkan sikap kritis terhadap penguasa dengan ancaman bedil dan undang-undang subversifnya.

Mempertanyakan Idealisme Intelektual

Posted in Kazanah, Politik dengan kaitan (tags) , , on November 15, 2008 by mayapadha

Jika dalam tataran ilmu peroalan roh yang menjadi jiwa jadi pokok persoalan utama, jelas di sini tuduhan kita arahkan pada positivisme yang sekian tahun terakhir ini menghegemoni ilmu pengatahuan. Sedangkan pada tataran ilmuwannya persoalan komitmen sosial dan moral sang ilmuwan menjadi bahasan utama. Pembahasan tentang ilmuwan sosial berikut tidak akan keluar dari persoalan roh positivisme yang menjiwai ilmu sosial. Karena perilaku ilmuwan sosial tidak akan pernah bisa terlepas dari paradigma berpikir yang dianutnya.
Dengan alasan tidak ingin berkubang dalam praktek onani inteletual para ilmuwan keluar dari dunia asketisme. Mereka merambah dunia praktis dan menjadi bagian dari mesin kekuasaan. Sungguh pilihan yang bijaksana jika masuknya ilmuwan sosial ke dunia praktis dengan alasan untuk tidak sekedar berwacana. Akan tetapi dalam perjalanannya justru niatan nafsu pribadi (vesteed interest) dan mentalitas budak ilmuwan sosial kita lebih menjadi dasar tindakan.
Sampai dengan detik ini ilmuwan sosial kita tidak pernah bisa beranjak dari mentalitas budaknya. Mentalitas budak yang oleh Niethzie disebut dengan sklaven mentalitat itu membuat ilmuwan sosial harus menghamba pada kekuasaan. Pada akhirnya ilmuwan sosial hanya menjadi antek-antek penguasa, baik penguasa ekonomi, politik, sosial, maupun penguasa budaya. Menurut sosiolog Robert Brym dalam bukunya yang bertajuk Intelektual dan Politik, disebutkan bahwa semakin terserapnya kaum intelektual dalam berbagai bagian dari kekuasaan mengindikasikan tamatnya kaum intelektual.
Sikap kritis sebagai ciri khas intelektual telah hilang. Mereka tidak mampu lagi meluruskan das sein yang melenceng dari das sollen. Mentalitas budak telah mengubah tradisi akademisi kritis menjadi tradisi akademisi developmentalis, sehingga kalangan ilmuwan sosial berhenti berpikir dan berdebat kritis. Mereka mengalami kemandegan dan statisme karena tenggelam dalam derap pembangunan yang gegap gempita. Saat ini memang tidak ada bedanya ilmuwan sosial dengan WTS di Pasar Kembang. Mereka sama-sama melacur, bedanya WTS melacurkan tubuhnya sedangkan para ilmuwan sosial melacurkan ilmu pengetahuan.
Ilmuwan sosial yang karena nafsu pribadinya dan mentalitas budaknya menjadi bagian dari kekuasaan akan mengalami kemandegan, menjadi statis, cenderung pragmatis, bahkan oportunis. Sedangkan ada sebagian ilmuwan sosial yang menjaga diri dari persoalan praktis, mereka cukup bangga dengan pembahasan wacana akademik tanpa menyentuh realitas. Ilmuwan sosial semacam itu pun tidak punya kontribusi untuk membangkitkan ilmu sosial dari keterpurukan. Karena di tangannya ilmu sosial hanya akan mengawang, tidak menyentuh pokok persoalan. Bahkan cenderung konservatif dengan mengagung-agungkan klaim kebenaran universal dari teori-teori besar, sehingga sebuah paper yang membahas tentang perkembangan masyarakat belum dianggap sahih dan sembrono manakala tidak mencantumkan nama Comte.
Berangkat dari kemandegan ilmuwan sosial positivis itulah teori kritis angkat bicara. Dalam tradisi teori kritis, ilmuwan sosial tidak harus a-historis dengan cara lari dari realitas, melainkan menekankan sikap kritis. Bagi teori kritis untuk mengembangkan ilmu sosial sikap kritis tidak dapat diabaikan. Karena hanya dengan sikap kritis ilmuwan sosial dapat semakin mengetahui ke arah mana mereka berkembang dan sejauh mana mereka maju. Dapat dikatakan tradisi kritis merupakan metode untuk menjaga asketisme ilmuwan sosial, meskipun berkiprah di dunia praktis, sehingga kesahihan ilmu sosial akan tetap terjaga.

Usaha Menyembunyikan Sejarah

Posted in Islam, Politik, sejarah dengan kaitan (tags) , on November 6, 2008 by mayapadha

Perubahan sikap suatu kelompok cenderung disertai perubahan pandangan terhadap masa lalu. Tindakan masa lalu yang oleh umum diangap sebagai suatu tindakan naïf, atau bahkan noda hitam lalu berusaha ditutupi. Agar mereka tidak disisihkan dalam pergulatan sosial politik saat ini. Langkah itulah yang ditempuh beberapa kelompok untuk menyembunyikan bahkan menghapus  sejarah hitam mereka sendiri.

Kalau selama ini pemerintah dan beberapa ormas Islam turun tangan soal penghilangan keterlibatan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam  peristiwa 1965, yang dianggap sebagai upaya partai terlarang itu untuk cuci tangan, padahal kekejaman partai itu masih dirasakan sebagian besar generasi yang hidup saat itu. Ini karena masyarakat tidak cermat membedakan mana realitas empiris dan mana realitas konstruktif (rekayasa).

Belakangan ini juga ada usaha menyembunyikan sejarah pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Permesta tahun 1950-an yang dilakukan oleh Partai Masjumi dan Partai Sosial Indonesia, terbukti keterlibatan beberapa tokoh utama kedua partai politik itu. Namun sekarang disebutkan pergolakan bersenjata itu bukan pemberontakan, tetapi kritik terhadap pemerintah pusat. Pandangan ini ditulis dalam berbagai buku, berbagai seminar dan artikel di Koran. Sebagai upaya cuci tangan yang memanipulasi realitas sejarah.

Kalau sebagai sebuah kritik terhadap pemerintah pusat, kenapa kelompok itu menamakan dirinya sebagai pemerintah, bukankah pembentukan pemerintah ketika masih ada pemerintahan yang sah itu sama dengan pemeberontakan. Kalapun masih disebit sebagai kritik, kenapa kritik dilakukan di hutan-hutan dengan menggunakan senjata, melakukan pertempuran. Apalagi mereka memperoleh suplai dengan menjarah uang negara dan mengundang pasukan asing memasukkan senjata untuk melawan pemerintah dan negara sendiri. Ini jelas pemberontakan, apalagi salah seorang pasukan asing seperti lan Pope berhasil ditangkap dan mengakui perbuatannya.

Sejaak awal sikap NU sangat jelas terhadap gerakan DI-TII dan PRRI Permesta, semuanya adalah bughat (pemberontakan) karena itu harus ditumpas. Bahkan oleh yang paling tegas menghadapi berbagai ulah kaum separatis dan pemberontak itu adalah Bung Hatta, bahwa sikap mereka itu sudah menciptakan Negara dalam Negara karena itu  mendorong Bung Karno yang masih ragu-ragu agar segera menggempur mereka. Ketika pemberontah menyerah Bung karno mau memaafkan mereka. Tetapi Bung Hatta tak pernah memaafkan para pemeberontak itu, terbukti tidak maui ditemui para pemberontak sampai akhir hayatnya.

Dengan berpegang pada sikap NU pada saat itu dan pandangan Bung Hatta sebagai orang yang namanya dicatut untuk melakukan pemberontakan itu kita tidak mudah dikelabuhi dan dimanipulasi baik para politisi maupun sejarawan kanan yang berusaha memanipulasi sejarah di tengah masyarakat yang transparan.

Untuk mengsambil sikap nasionalis yang tegas itu bagi NU tidak mudah, tetapi penuh resiko yang ditanggung hingga saat ini. Akibatnya oleh sejarawan NU dicap sebagai oportunis, karena kebetulan skapnya sama dengan pendirian pemerintah mengenai keutuhan Negara. Padahal itu sangat tegas dengan sikap patriotik hingga saat ini, yang menentang segala bentuk kolonialisme dan intervensi asing baik yang bersifat budaya, politik maupun ideologi.

Pengaburan sejarah pemberontakan PRRI-Permesta itu sebaga upaya mengubah konstelasi politik nasional, yang hendak memerankan para para pemberontak serta anak cucunya yang terlibat dalam pemberontakan itu dalam percaturan politik di negeri yang dulu pernah digempur ini. Tindakan ini hanya diambil oleh para oportunis yang menjadi agen asing. Pantas karena mereka itu sejak awal didik secara colonial dan menerapkan prinsip-prinsip kolonial dalam gaya hidup mereka. Mereka dengan tegas menolak nasionalisme dan segala bentuk nilai tradisi, termasuk sejarah.

Adalah aneh mereka yang mengagungkan pemberontakan itu ikut bicara soal kedaulatan nasional, padahal sejak awal mereka bersekongkol dengan kolonial, justeru disaat bangsa ini gigih menolak kolonialisme. Sejarah yang menjadi memori bersama itu harus dipegang, sebab kalau tidak orang  bisa terkecoh. Di tengah pergerakan nasional untuk mengembalikan kedaulatan bangsa dan Negara ini mereka hendak turut ambil bagian, dengan cara memanipulasi sejarah hitam mereka. Bukan dengan mengakui kesalahannya, lalu melakukan refleksi dan langkah kompensasinya.

Kesalahan sejarah itu tidak akan hilang karena ditutupi, sebab semua orang sudah tahu dari sumber paling otentik bahwa PRRI Permesta itu adalah pemberontakan yang bersekongkol dengan agen dan tentara kolonial untuk mengganti pemerintah dan Negara RI. Dengan adanya kesadaran itu orang tidak  akan terkecoh berbagai teori, berbagai analisis serta pandangan yang tidak sesuai dengan realitas histories itu. Ingatan publik jauh lebih kuat disbanding manipulasi elite yang hendak memanipulasi, karena itu penulisan dan analisis sejarah semacam itu harus dikontrol sejak dini.

Tantangan Baru Bagi Kaderisasi

Posted in Info, Islam, Politik dengan kaitan (tags) , on November 6, 2008 by mayapadha

Masa depan sebuah organisasi sangat tergantung pada berjalan tidaknya proses kaderisasi. Bila kaderisiasi berjalan, maka masa depan organisasi itu terjamin, bila kaderisasi tidak jalan, maka masa depan organiasasi itu dalam kegelapan. Bisa jadi baik, karena muncul pimpinan yang tak terduga, tetapi bisa jadi suram karena pemimpin yang hadir tanpa dipersiapkan, sehingga  tidak mampu menyambung dan menggerakkan roda organisasi, baik itu organiasasi keluarga, keagamaan, kemasyarakatan, perusahaan, partai politik atau negara.

Saat ini kaderisasi menjadi barang langka, orang kembali ke alam primitif, tidak berinfestasi di sumber daya manusia. Mereka hanya merekrut orang yang sudah jadi. Risikonya harus banyar tinggi, baik bayar dengan uang, atau bayar dengan kekecewaan, sebab seorang pemimpin yang tidak memiliki komitmen organisasi setiap saat bisa meninggaklan organisasinya ketika mendapatkan tawaran yang lebih menguntungkan. Ini yang banyak terjadi saat ini.

Dengan tidak adanya kaderisasi ini, sering dalam menyusunan sebuah organisasi tidak lagi mempertimbangkan kemampuan dan pengabdian serta prestasi. Siapa yang dekat dengan pemegang kekuasaan, dengan modal uang atau menjilat, maka jadilah ia pemimpin. Prosedur rekrutmen tidak dilalui, bisa jadi kader yang berprestasi dilewai oleh petualangan yang tak berpengalaman. Organisasi hanya sebagai terminal atau batu loncatan untuk mencari posisi lebih tinggi. Oleh karena itu hampir semua organisasi sosial, politik dan keagamaan mengalami kerapuhan di dalam karena dikelola oleh orang yang tidak memiliki komitmen berorganisasi.

Kenyataan itu berkembang lebih para, ketika pemimpin yang muncul tidak memiliki visi kaderisasi, sehingga mereka hanya berjalan sendiri, dengan dalih lebih efisien. Ketika efisiensi telah diterapkan dalam organisasi, apalagi didasari oleh prinsip pragmatisme, maka efisiensi telah meruntuhkan system kderisasi organisasi. Kaderisasi tidak mesti dalam kelas resmi, tetapi dijalankan melalui penugasan. Penugasan sebagai proses pematangan telah ditiadakan, ketika para pemimpin lebih senang memilih event organizer (EO) untuk menjalankan suatu acara.

Cara itu memang simpel, dengan dana tertentu ia bisa menunjuk sebuah EO untuk melaksanakan kegiatan, tanpa melibatkan anggota organisasi secara keseluruhan. Dengan demikian dana bisa disimpan lebih banyak. Ketika organisasi banayak menyerahkan kegiatan pada EO maka praktis pengalaman mengkelola organisasi bagi anggota menjadi nihil. Akhirnya organisasi juga tidak ternbangun kebersamaan, maka lambat laun organisasi menjadi sebuah perusahaan pribadi yang tugasnya hanya menjalankan proyek. Bukan untuk menggerakkan organisasi dan menggerakkan masyarakat untuk tujuan tertentu.

Bila fenomena ini berjalan terus tanpa kontrol, maka organisasi akan menjadi korporasi, dan system kaderisasi akan punah. Demikian juga organisasai tidak mperlu memiliki berbagai departemen, karena seorang ketua, telah bisa menunjuk EO mana saja sesuai dengan bidang kerjanya. Anggota organisasi yang diterlantarkan tidak dimobilisasi akhirnya mengalami kejenuhan sendiri, karena itu satu-persatu mengundurkan diri, atau tidak aktif.

Fenomena EO ini juga sudah mulai merasuki kalangan aktivis NU, sehingga tugas kaderisasi organisasi jadi terhenti. Tidak ada aktivitas yang didistribusikan, tidak ada pengalaman yang disosialisasikan. Ini semua akibat lemahnya gerakan kaderisasi, sehingga organisasi berkembang tanpa pola, dan lama kelamaan organisasi mengalami kejenuhan, kemandekan bahkan terjadi kehilangan spirit. Kalaupun organisasi masih hidup, tetapi tidak memiliki aktivitas, hanya punya papan nama. Padahal masyarakat banyak membutuhkan pertolongan.

Sementara itu di sisi lain muncul kelompok Islam baru yang radikal dengan spirit organisasi yang tinggi, dan dengan pengkaderan yang sistematis, mulai menguasai keadaan. Kalau  kalangan ormas termasuk NU tidak memperbaiki system organisasinya, terutama sistem rekrutmen dan bidang kaderisasinya, NU akan mengalami disorganisasi dan akan mengalami demoralisasi, ketika komitmen berorganisasi tidak ditumbuhkan. Komitmen organisasi bisa ditumbuhkan melalui serangkaian keteladanan dan kaderisasi.