<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar untuk Mayapadha</title>
	<atom:link href="http://mayapadha.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mayapadha.wordpress.com</link>
	<description>m a k e   t h e   h a y   w h i l e   t h e   s u n   r i s e</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Nov 2009 02:08:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Komentar di Sejarah Lahirnya Pancasila. oleh uwick</title>
		<link>http://mayapadha.wordpress.com/2008/06/21/sejarah-lahirnya-pancasila/#comment-120</link>
		<dc:creator>uwick</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 02:08:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mayapadha.wordpress.com/?p=5#comment-120</guid>
		<description>saya cinta perjuangan pak Karno dan para pejuang lainnya dalam memperjuangkan kemerdekaan RI. 
semoga rakyat Indonesia tidak lepas dari Pancasila dan akan mengamalkan tiap silanya. Undang- undang 1945 dan Pancasila adalah harus dijadikan pedoman, acuan, pandangan hidup, untuk bangsa yang &quot;merdeka&quot;, Indonesia.  
merdeka ............
meski bebeda- beda tapi KITA ADALAH SATU ........................</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya cinta perjuangan pak Karno dan para pejuang lainnya dalam memperjuangkan kemerdekaan RI.<br />
semoga rakyat Indonesia tidak lepas dari Pancasila dan akan mengamalkan tiap silanya. Undang- undang 1945 dan Pancasila adalah harus dijadikan pedoman, acuan, pandangan hidup, untuk bangsa yang &#8220;merdeka&#8221;, Indonesia.<br />
merdeka &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;<br />
meski bebeda- beda tapi KITA ADALAH SATU &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Sejarah Lahirnya Pancasila. oleh Jose Gustavo</title>
		<link>http://mayapadha.wordpress.com/2008/06/21/sejarah-lahirnya-pancasila/#comment-119</link>
		<dc:creator>Jose Gustavo</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 18:16:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mayapadha.wordpress.com/?p=5#comment-119</guid>
		<description>saya salut dengan artikel ini dan saya sangat sepakat, akan tetapi ada yang harus bisa kita jabarkan lagi mengenai G30S, yang sesunguhnya terjadi pada 1 Oktober dini hari, oleh sebab itu Bung Karno mengatakan itu adalah GESTOK (GErakan SaTu OKtober) . Juga mengenai KUDETA?? Siapa KUDETA adalah pertanyaan besar! dan kenapa Komunis harus Kudeta?? sudah mencari bukti bukti yang lebih konkrit! lalu bagai mana dengan isu Dewan Jendral yang sengaja dihembuskan agar memancing tindakan gegabah oleh petinggi PKI! Bukankah sudah jelas bahwa itu adalah upaya sekutu (CIA) untuk dapat masuk dan mengendalikan pemerintahan Indonesia sehingga mereka dengan bebas bisa menguasai kekayaan kita dan sebagai upaya kedua Imperialis ketika gagal menawarkan &quot;bantuan&quot; pinjaman yang ketika itu Bung Karno menolak mentah-mentah dengan ucapannya yang terkenal &quot;GO TO THE HELL WITH YOUR AID&quot;. Perintah Aidit pada saat itu adalah menculik yang disebut Dewan Jendral pada saat itu sebagai upaya pencegahan KUDETA yang telah di rencanakan Dewan Jendral tersebut. Isu Dewan Jendral memancing kemarahan PKI sehingga mereka menangkap Dewan Jendral untuk di Interogasi bukan di bunuh! lalu kenapa akhirnya mereka terbunuh?? sebelum saya menjawab lebih jauh lagi, saya ingin mengetahui apakah anda sudah mengetahui Kedekatan Suharto dengan PKI saat itu, lalu sudahkah anda pernah mendengar ungkapan &quot;membalas dengan senyuman&quot; ? yang mana ini ada hubungannya dengan kejadian ketika Nasution memergoki Suharto menyelundupkan beras bersama Liem Sio Liong sehingga Suharto ditangkap dan mendapat tamparan keras dari Ahmad Yani. Ini adalah hasil balas dendam Suharto terhadap Ahmad Yani dan Nasution dengan memanfaatkan PKI yang mana Suharto begitu dekat dengan PKI sehingga dia berhasil masuk kedalam tubuh PKI! CIA, SUHARTO, DEWAN JENDRAL nah dari mereka ada benang merah yang berkaitan dengan peristiwa RERA! (Cobalah merunut sejarah dan jangan setengah) 

Pagi 1 Oktober 1965 Bung Karno berada di Halim. Malam harinya ia menginap di rumah istri Dewi Soekarno di Slipi (Wisma Yaso). Pagi-pagi setelah mendapat kabar mengenai penculikan para jenderal, ia berangkat bersama ajudan Parto menuju Istana negara, namun menjelang sampai Istana, jalanan diblokade oleh tentara. Menurut ajudan, pasukan tersebut tidak dikenal, karena memang tidak ada jadwal blokade jalan menuju Istana.

Dalam waktu cepat Parto mengambil inisiatif dengan tidak meneruskan perjalanan ke Istana. Mungkin ia menangkap firasat bahaya jika Presiden ke Istana. Lantas Parto mengusulkan Sebaiknya ke Halim saja, pak. Kalau ada apa-apa dari Halim akan dengan cepat terbang ke tempat lain, katanya. Bung Karno menurut saja. Dalam protokoler pengamanan presiden, jika pasukan pengaman merasa presiden dalam bahaya, maka tujuan utama adalah lapangan terbang. Dengan begitu presiden bisa diterbangkan ke mana saja secara cepat. Itu asal-muasal presiden berada di Halim. Mungkin Parto (juga Bung Karno) tidak tahu bahwa para jenderal diculik dan dibawa ke Halim. Sesampainya ke Halim pun Bung Karno belum tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Baru setelah beberapa saat di Halim, beliau diberitahu oleh para pengawal. Beberapa saat kemudian ia menerima laporan dari Brigjen Soepardjo. Aidit pagi itu juga berada di Halim. Inilah keanehannya: para tokoh sangat penting berkumpul di Halim. Kalau Oemar Dhani berada di sana, itu masih wajar karena ia adalah pimpinan AURI. Tetapi keberadaan Aidit di sana sungguh mengherankan. Bung Karno dan Oemar Dhani berada di satu tempat, sedangkan Aidit berada di tempat lain sekitar Halim. Setelah Bung karno terbang ke Istana Bogor (prosesnya dirinci di bagian lebih lanjut), Aidit terbang ke Jawa Tengah.

Beberapa hari kemudian Aidit ditembak mati oleh Kolonel Yasir Hadibroto di Brebes, Jawa Tengah. Menurut kabar resmi Aidit ditembak karena saat ditangkap ia melawan. Tetapi menurut laporan intelijen kami Aidit sama sekali tidak melawan. Soeharto memang memerintahkan tentara untuk menghabisi Aidit, katanya. Dengan begitu Aidit tidak dapat bicara yang sebenarnya.

Saya lebih percaya pada laporan intelijen kami, sebab istri Aidit kemudian cerita bahwa pada tanggal 30 September 1965 malam hari ia kedatangan tamu beberapa orang tentara. Para tamu itu memaksa Aidit meninggalkan rumah. Suami saya diculik tentara, ujarnya. Setelah itu Aidit tidak pernah pulang lagi sampai ia ditembak mati di Brebes.

Hanya beberapa jam setelah para jenderal dibunuh sekitar pukul 11.00 WIB, 1 Oktober 1965, Presiden Soekarno dari pangkalan udara Halim mengeluarkan instruksi yang disampaikan melalui radiogram ke markas Besar ABRI. Saat itu Bung Karno hanya menerima informasi bahwa beberapa jenderal baru saja diculik. Belum ada informasi mengenai nasib para jenderal, meskipun sebenarnya para jenderal sudah dibunuh.

Inti instruksi Bung Karno adalah bahwa semua pihak diminta tenang. Semua pasukan harap stand-by di posisinya masing-masing. Semua pasukan hanya boleh bergerak atas perintah saya selaku Presiden dan Panglima Tertinggi ABRI. Semua persoalan akan diselesaikan pemerintah/Presiden. Hindari pertumpahan darah.

Demikian antara lain isi instruksi Presiden. Instruksi itu ditafsirkan Soeharto bahwa Untung dan kawan-kawan sudah kalah, karena gerakan menculik dan membunuh para jenderal tidak didukung oleh Presiden. Instruksi lantas disambut Soeharto dengan memerintahkan anak-buahnya menangkap Untung dan kawan-kawan.

Jelas ini membingungkan Untung. Ia sudah melapor ke Soeharto soal Dewan Jenderal yang akan melakukan kup terhadap Presiden Soekarno. Untung juga mengutarakan niatnya untuk mendahului gerakan Dewan Jenderal dengan cara menangkap mereka lebih dulu. Semua ini didukung oleh Soeharto. Bahkan Soeharto malah memberi bantuan pasukan.

Setelah anggota dewan Jenderal dibunuh, Soeharto malah menyuruh Untung ditangkap.

Mengenai soal ini saya ingat cerita Untung kepada saya saat kami sama-sama dipenjara di Cimahi. Untung dengan yakin mengatakan bahwa ia tidak akan dieksekusi meskipun pengadilan sudah menjatuhkan hukuman mati. Sebab Soeharto yang mendukung saya menghantam Dewan Jenderal. Malah kami didukung pasukan Soeharto yang didatangkan dari daerah, katanya. Teman-teman sesama narapidana politik juga tahu bahwa Untung adalah anak emas Soeharto. Tapi akhirnya Untung dihukum mati dan benar-benar dieksekusi.

Hampir bersamaan dengan keluarnya instruksi Presiden-mungkin hanya selisih beberapa menit kemudian - Soeharto memanggil ajudan Bung Karno, Bambang Widjanarko yang berada di Halim agar menghadap Soeharto di Makostrad. Ini mungkin hampir bersamaan waktunya dengan perintah Soeharto agar Untung dan kawan-kawan ditangkap. Di Makostrad Bambang Widjanarko diberitahu Soeharto agar Presiden Soekarno dibawa pergi dari Pangkalan Halim sebab pasukan dari Kostrad di bawah pimpinan Sarwo Edhi Wibowo sudah disiapkan untuk menyerbu Halim. 

okeh kawan2 berhubung saya ada ujian tengah semester satu maka nanti disambung lagi! trimakasih ! oh iya saya juga beragama tapi saya tidak pernah mendebatkannya, jangan sampai nanti kejadian Poso terulang kembali! agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku jadi tidak perlu di perdebatkan dan merasa paling benar sebab kita harus saling menghargai..... mmm sebetulnya itulah yang diajarkan Komunis! jadi kalo kawan2 yang belum mengerti apa itu komunis janganlah  su&#039;udzon ! wassallam! God Bless You (semoga Tuhan Menyertai Kalian Semua )</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya salut dengan artikel ini dan saya sangat sepakat, akan tetapi ada yang harus bisa kita jabarkan lagi mengenai G30S, yang sesunguhnya terjadi pada 1 Oktober dini hari, oleh sebab itu Bung Karno mengatakan itu adalah GESTOK (GErakan SaTu OKtober) . Juga mengenai KUDETA?? Siapa KUDETA adalah pertanyaan besar! dan kenapa Komunis harus Kudeta?? sudah mencari bukti bukti yang lebih konkrit! lalu bagai mana dengan isu Dewan Jendral yang sengaja dihembuskan agar memancing tindakan gegabah oleh petinggi PKI! Bukankah sudah jelas bahwa itu adalah upaya sekutu (CIA) untuk dapat masuk dan mengendalikan pemerintahan Indonesia sehingga mereka dengan bebas bisa menguasai kekayaan kita dan sebagai upaya kedua Imperialis ketika gagal menawarkan &#8220;bantuan&#8221; pinjaman yang ketika itu Bung Karno menolak mentah-mentah dengan ucapannya yang terkenal &#8220;GO TO THE HELL WITH YOUR AID&#8221;. Perintah Aidit pada saat itu adalah menculik yang disebut Dewan Jendral pada saat itu sebagai upaya pencegahan KUDETA yang telah di rencanakan Dewan Jendral tersebut. Isu Dewan Jendral memancing kemarahan PKI sehingga mereka menangkap Dewan Jendral untuk di Interogasi bukan di bunuh! lalu kenapa akhirnya mereka terbunuh?? sebelum saya menjawab lebih jauh lagi, saya ingin mengetahui apakah anda sudah mengetahui Kedekatan Suharto dengan PKI saat itu, lalu sudahkah anda pernah mendengar ungkapan &#8220;membalas dengan senyuman&#8221; ? yang mana ini ada hubungannya dengan kejadian ketika Nasution memergoki Suharto menyelundupkan beras bersama Liem Sio Liong sehingga Suharto ditangkap dan mendapat tamparan keras dari Ahmad Yani. Ini adalah hasil balas dendam Suharto terhadap Ahmad Yani dan Nasution dengan memanfaatkan PKI yang mana Suharto begitu dekat dengan PKI sehingga dia berhasil masuk kedalam tubuh PKI! CIA, SUHARTO, DEWAN JENDRAL nah dari mereka ada benang merah yang berkaitan dengan peristiwa RERA! (Cobalah merunut sejarah dan jangan setengah) </p>
<p>Pagi 1 Oktober 1965 Bung Karno berada di Halim. Malam harinya ia menginap di rumah istri Dewi Soekarno di Slipi (Wisma Yaso). Pagi-pagi setelah mendapat kabar mengenai penculikan para jenderal, ia berangkat bersama ajudan Parto menuju Istana negara, namun menjelang sampai Istana, jalanan diblokade oleh tentara. Menurut ajudan, pasukan tersebut tidak dikenal, karena memang tidak ada jadwal blokade jalan menuju Istana.</p>
<p>Dalam waktu cepat Parto mengambil inisiatif dengan tidak meneruskan perjalanan ke Istana. Mungkin ia menangkap firasat bahaya jika Presiden ke Istana. Lantas Parto mengusulkan Sebaiknya ke Halim saja, pak. Kalau ada apa-apa dari Halim akan dengan cepat terbang ke tempat lain, katanya. Bung Karno menurut saja. Dalam protokoler pengamanan presiden, jika pasukan pengaman merasa presiden dalam bahaya, maka tujuan utama adalah lapangan terbang. Dengan begitu presiden bisa diterbangkan ke mana saja secara cepat. Itu asal-muasal presiden berada di Halim. Mungkin Parto (juga Bung Karno) tidak tahu bahwa para jenderal diculik dan dibawa ke Halim. Sesampainya ke Halim pun Bung Karno belum tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Baru setelah beberapa saat di Halim, beliau diberitahu oleh para pengawal. Beberapa saat kemudian ia menerima laporan dari Brigjen Soepardjo. Aidit pagi itu juga berada di Halim. Inilah keanehannya: para tokoh sangat penting berkumpul di Halim. Kalau Oemar Dhani berada di sana, itu masih wajar karena ia adalah pimpinan AURI. Tetapi keberadaan Aidit di sana sungguh mengherankan. Bung Karno dan Oemar Dhani berada di satu tempat, sedangkan Aidit berada di tempat lain sekitar Halim. Setelah Bung karno terbang ke Istana Bogor (prosesnya dirinci di bagian lebih lanjut), Aidit terbang ke Jawa Tengah.</p>
<p>Beberapa hari kemudian Aidit ditembak mati oleh Kolonel Yasir Hadibroto di Brebes, Jawa Tengah. Menurut kabar resmi Aidit ditembak karena saat ditangkap ia melawan. Tetapi menurut laporan intelijen kami Aidit sama sekali tidak melawan. Soeharto memang memerintahkan tentara untuk menghabisi Aidit, katanya. Dengan begitu Aidit tidak dapat bicara yang sebenarnya.</p>
<p>Saya lebih percaya pada laporan intelijen kami, sebab istri Aidit kemudian cerita bahwa pada tanggal 30 September 1965 malam hari ia kedatangan tamu beberapa orang tentara. Para tamu itu memaksa Aidit meninggalkan rumah. Suami saya diculik tentara, ujarnya. Setelah itu Aidit tidak pernah pulang lagi sampai ia ditembak mati di Brebes.</p>
<p>Hanya beberapa jam setelah para jenderal dibunuh sekitar pukul 11.00 WIB, 1 Oktober 1965, Presiden Soekarno dari pangkalan udara Halim mengeluarkan instruksi yang disampaikan melalui radiogram ke markas Besar ABRI. Saat itu Bung Karno hanya menerima informasi bahwa beberapa jenderal baru saja diculik. Belum ada informasi mengenai nasib para jenderal, meskipun sebenarnya para jenderal sudah dibunuh.</p>
<p>Inti instruksi Bung Karno adalah bahwa semua pihak diminta tenang. Semua pasukan harap stand-by di posisinya masing-masing. Semua pasukan hanya boleh bergerak atas perintah saya selaku Presiden dan Panglima Tertinggi ABRI. Semua persoalan akan diselesaikan pemerintah/Presiden. Hindari pertumpahan darah.</p>
<p>Demikian antara lain isi instruksi Presiden. Instruksi itu ditafsirkan Soeharto bahwa Untung dan kawan-kawan sudah kalah, karena gerakan menculik dan membunuh para jenderal tidak didukung oleh Presiden. Instruksi lantas disambut Soeharto dengan memerintahkan anak-buahnya menangkap Untung dan kawan-kawan.</p>
<p>Jelas ini membingungkan Untung. Ia sudah melapor ke Soeharto soal Dewan Jenderal yang akan melakukan kup terhadap Presiden Soekarno. Untung juga mengutarakan niatnya untuk mendahului gerakan Dewan Jenderal dengan cara menangkap mereka lebih dulu. Semua ini didukung oleh Soeharto. Bahkan Soeharto malah memberi bantuan pasukan.</p>
<p>Setelah anggota dewan Jenderal dibunuh, Soeharto malah menyuruh Untung ditangkap.</p>
<p>Mengenai soal ini saya ingat cerita Untung kepada saya saat kami sama-sama dipenjara di Cimahi. Untung dengan yakin mengatakan bahwa ia tidak akan dieksekusi meskipun pengadilan sudah menjatuhkan hukuman mati. Sebab Soeharto yang mendukung saya menghantam Dewan Jenderal. Malah kami didukung pasukan Soeharto yang didatangkan dari daerah, katanya. Teman-teman sesama narapidana politik juga tahu bahwa Untung adalah anak emas Soeharto. Tapi akhirnya Untung dihukum mati dan benar-benar dieksekusi.</p>
<p>Hampir bersamaan dengan keluarnya instruksi Presiden-mungkin hanya selisih beberapa menit kemudian &#8211; Soeharto memanggil ajudan Bung Karno, Bambang Widjanarko yang berada di Halim agar menghadap Soeharto di Makostrad. Ini mungkin hampir bersamaan waktunya dengan perintah Soeharto agar Untung dan kawan-kawan ditangkap. Di Makostrad Bambang Widjanarko diberitahu Soeharto agar Presiden Soekarno dibawa pergi dari Pangkalan Halim sebab pasukan dari Kostrad di bawah pimpinan Sarwo Edhi Wibowo sudah disiapkan untuk menyerbu Halim. </p>
<p>okeh kawan2 berhubung saya ada ujian tengah semester satu maka nanti disambung lagi! trimakasih ! oh iya saya juga beragama tapi saya tidak pernah mendebatkannya, jangan sampai nanti kejadian Poso terulang kembali! agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku jadi tidak perlu di perdebatkan dan merasa paling benar sebab kita harus saling menghargai&#8230;.. mmm sebetulnya itulah yang diajarkan Komunis! jadi kalo kawan2 yang belum mengerti apa itu komunis janganlah  su&#8217;udzon ! wassallam! God Bless You (semoga Tuhan Menyertai Kalian Semua )</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Sejarah Lahirnya Pancasila. oleh Jose Gustavo</title>
		<link>http://mayapadha.wordpress.com/2008/06/21/sejarah-lahirnya-pancasila/#comment-118</link>
		<dc:creator>Jose Gustavo</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 18:15:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mayapadha.wordpress.com/?p=5#comment-118</guid>
		<description>saya salut dengan artikel ini dan saya sangat sepakat, akan tetapi ada yang harus bisa kita jabarkan lagi mengenai G30S, yang sesunguhnya terjadi pada 1 Oktober dini hari, oleh sebab itu Bung Karno mengatakan itu adalah GESTOK (GErakan SaTu OKtober) . Juga mengenai KUDETA?? Siapa KUDETA adalah pertanyaan besar! dan kenapa Komunis harus Kudeta?? sudah mencari bukti bukti yang lebih konkrit! lalu bagai mana dengan isu Dewan Jendral yang sengaja dihembuskan agar memancing tindakan gegabah oleh petinggi PKI! Bukankah sudah jelas bahwa itu adalah upaya sekutu (CIA) untuk dapat masuk dan mengendalikan pemerintahan Indonesia sehingga mereka dengan bebas bisa menguasai kekayaan kita dan sebagai upaya kedua Imperialis ketika gagal menawarkan &quot;bantuan&quot; pinjaman yang ketika itu Bung Karno menolak mentah-mentah dengan ucapannya yang terkenal &quot;GO TO THE HELL WITH YOUR AID&quot;. Perintah Aidit pada saat itu adalah menculik yang disebut Dewan Jendral pada saat itu sebagai upaya pencegahan KUDETA yang telah di rencanakan Dewan Jendral tersebut. Isu Dewan Jendral memancing kemarahan PKI sehingga mereka menangkap Dewan Jendral untuk di Interogasi bukan di bunuh! lalu kenapa akhirnya mereka terbunuh?? sebelum saya menjawab lebih jauh lagi, saya ingin mengetahui apakah anda sudah mengetahui Kedekatan Suharto dengan PKI saat itu, lalu sudahkah anda pernah mendengar ungkapan &quot;membalas dengan senyuman&quot; ? yang mana ini ada hubungannya dengan kejadian ketika Nasution memergoki Suharto menyelundupkan beras bersama Liem Sio Liong sehingga Suharto ditangkap dan mendapat tamparan keras dari Ahmad Yani. Ini adalah hasil balas dendam Suharto terhadap Ahmad Yani dan Nasution dengan memanfaatkan PKI yang mana Suharto begitu dekat dengan PKI sehingga dia berhasil masuk kedalam tubuh PKI! CIA, SUHARTO, DEWAN JENDRAL nah dari mereka ada benang merah yang berkaitan dengan peristiwa RERA! (Cobalah merunut sejarah dan jangan setengah) 

Pagi 1 Oktober 1965 Bung Karno berada di Halim. Malam harinya ia menginap di rumah istri Dewi Soekarno di Slipi (Wisma Yaso). Pagi-pagi setelah mendapat kabar mengenai penculikan para jenderal, ia berangkat bersama ajudan Parto menuju Istana negara, namun menjelang sampai Istana, jalanan diblokade oleh tentara. Menurut ajudan, pasukan tersebut tidak dikenal, karena memang tidak ada jadwal blokade jalan menuju Istana.

Dalam waktu cepat Parto mengambil inisiatif dengan tidak meneruskan perjalanan ke Istana. Mungkin ia menangkap firasat bahaya jika Presiden ke Istana. Lantas Parto mengusulkan Sebaiknya ke Halim saja, pak. Kalau ada apa-apa dari Halim akan dengan cepat terbang ke tempat lain, katanya. Bung Karno menurut saja. Dalam protokoler pengamanan presiden, jika pasukan pengaman merasa presiden dalam bahaya, maka tujuan utama adalah lapangan terbang. Dengan begitu presiden bisa diterbangkan ke mana saja secara cepat. Itu asal-muasal presiden berada di Halim. Mungkin Parto (juga Bung Karno) tidak tahu bahwa para jenderal diculik dan dibawa ke Halim. Sesampainya ke Halim pun Bung Karno belum tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Baru setelah beberapa saat di Halim, beliau diberitahu oleh para pengawal. Beberapa saat kemudian ia menerima laporan dari Brigjen Soepardjo. Aidit pagi itu juga berada di Halim. Inilah keanehannya: para tokoh sangat penting berkumpul di Halim. Kalau Oemar Dhani berada di sana, itu masih wajar karena ia adalah pimpinan AURI. Tetapi keberadaan Aidit di sana sungguh mengherankan. Bung Karno dan Oemar Dhani berada di satu tempat, sedangkan Aidit berada di tempat lain sekitar Halim. Setelah Bung karno terbang ke Istana Bogor (prosesnya dirinci di bagian lebih lanjut), Aidit terbang ke Jawa Tengah.

Beberapa hari kemudian Aidit ditembak mati oleh Kolonel Yasir Hadibroto di Brebes, Jawa Tengah. Menurut kabar resmi Aidit ditembak karena saat ditangkap ia melawan. Tetapi menurut laporan intelijen kami Aidit sama sekali tidak melawan. Soeharto memang memerintahkan tentara untuk menghabisi Aidit, katanya. Dengan begitu Aidit tidak dapat bicara yang sebenarnya.

Saya lebih percaya pada laporan intelijen kami, sebab istri Aidit kemudian cerita bahwa pada tanggal 30 September 1965 malam hari ia kedatangan tamu beberapa orang tentara. Para tamu itu memaksa Aidit meninggalkan rumah. Suami saya diculik tentara, ujarnya. Setelah itu Aidit tidak pernah pulang lagi sampai ia ditembak mati di Brebes.

Hanya beberapa jam setelah para jenderal dibunuh sekitar pukul 11.00 WIB, 1 Oktober 1965, Presiden Soekarno dari pangkalan udara Halim mengeluarkan instruksi yang disampaikan melalui radiogram ke markas Besar ABRI. Saat itu Bung Karno hanya menerima informasi bahwa beberapa jenderal baru saja diculik. Belum ada informasi mengenai nasib para jenderal, meskipun sebenarnya para jenderal sudah dibunuh.

Inti instruksi Bung Karno adalah bahwa semua pihak diminta tenang. Semua pasukan harap stand-by di posisinya masing-masing. Semua pasukan hanya boleh bergerak atas perintah saya selaku Presiden dan Panglima Tertinggi ABRI. Semua persoalan akan diselesaikan pemerintah/Presiden. Hindari pertumpahan darah.

Demikian antara lain isi instruksi Presiden. Instruksi itu ditafsirkan Soeharto bahwa Untung dan kawan-kawan sudah kalah, karena gerakan menculik dan membunuh para jenderal tidak didukung oleh Presiden. Instruksi lantas disambut Soeharto dengan memerintahkan anak-buahnya menangkap Untung dan kawan-kawan.

Jelas ini membingungkan Untung. Ia sudah melapor ke Soeharto soal Dewan Jenderal yang akan melakukan kup terhadap Presiden Soekarno. Untung juga mengutarakan niatnya untuk mendahului gerakan Dewan Jenderal dengan cara menangkap mereka lebih dulu. Semua ini didukung oleh Soeharto. Bahkan Soeharto malah memberi bantuan pasukan.

Setelah anggota dewan Jenderal dibunuh, Soeharto malah menyuruh Untung ditangkap.

Mengenai soal ini saya ingat cerita Untung kepada saya saat kami sama-sama dipenjara di Cimahi. Untung dengan yakin mengatakan bahwa ia tidak akan dieksekusi meskipun pengadilan sudah menjatuhkan hukuman mati. Sebab Soeharto yang mendukung saya menghantam Dewan Jenderal. Malah kami didukung pasukan Soeharto yang didatangkan dari daerah, katanya. Teman-teman sesama narapidana politik juga tahu bahwa Untung adalah anak emas Soeharto. Tapi akhirnya Untung dihukum mati dan benar-benar dieksekusi.

Hampir bersamaan dengan keluarnya instruksi Presiden-mungkin hanya selisih beberapa menit kemudian - Soeharto memanggil ajudan Bung Karno, Bambang Widjanarko yang berada di Halim agar menghadap Soeharto di Makostrad. Ini mungkin hampir bersamaan waktunya dengan perintah Soeharto agar Untung dan kawan-kawan ditangkap. Di Makostrad Bambang Widjanarko diberitahu Soeharto agar Presiden Soekarno dibawa pergi dari Pangkalan Halim sebab pasukan dari Kostrad di bawah pimpinan Sarwo Edhi Wibowo sudah disiapkan untuk menyerbu Halim. okeh kawan2 berhubung saya ada ujian tengah semester satu maka nanti disambung lagi! trimakasih ! oh iya saya juga beragama tapi saya tidak pernah mendebatkannya, jangan sampai nanti kejadian Poso terulang kembali! agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku jadi tidak perlu di perdebatkan dan merasa paling benar sebab kita harus saling menghargai..... mmm sebetulnya itulah yang diajarkan Komunis! jadi kalo kawan2 yang belum mengerti apa itu komunis janganlah  su&#039;udzon ! wassallam! God Bless You (semoga Tuhan Menyertai Kalian Semua )</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya salut dengan artikel ini dan saya sangat sepakat, akan tetapi ada yang harus bisa kita jabarkan lagi mengenai G30S, yang sesunguhnya terjadi pada 1 Oktober dini hari, oleh sebab itu Bung Karno mengatakan itu adalah GESTOK (GErakan SaTu OKtober) . Juga mengenai KUDETA?? Siapa KUDETA adalah pertanyaan besar! dan kenapa Komunis harus Kudeta?? sudah mencari bukti bukti yang lebih konkrit! lalu bagai mana dengan isu Dewan Jendral yang sengaja dihembuskan agar memancing tindakan gegabah oleh petinggi PKI! Bukankah sudah jelas bahwa itu adalah upaya sekutu (CIA) untuk dapat masuk dan mengendalikan pemerintahan Indonesia sehingga mereka dengan bebas bisa menguasai kekayaan kita dan sebagai upaya kedua Imperialis ketika gagal menawarkan &#8220;bantuan&#8221; pinjaman yang ketika itu Bung Karno menolak mentah-mentah dengan ucapannya yang terkenal &#8220;GO TO THE HELL WITH YOUR AID&#8221;. Perintah Aidit pada saat itu adalah menculik yang disebut Dewan Jendral pada saat itu sebagai upaya pencegahan KUDETA yang telah di rencanakan Dewan Jendral tersebut. Isu Dewan Jendral memancing kemarahan PKI sehingga mereka menangkap Dewan Jendral untuk di Interogasi bukan di bunuh! lalu kenapa akhirnya mereka terbunuh?? sebelum saya menjawab lebih jauh lagi, saya ingin mengetahui apakah anda sudah mengetahui Kedekatan Suharto dengan PKI saat itu, lalu sudahkah anda pernah mendengar ungkapan &#8220;membalas dengan senyuman&#8221; ? yang mana ini ada hubungannya dengan kejadian ketika Nasution memergoki Suharto menyelundupkan beras bersama Liem Sio Liong sehingga Suharto ditangkap dan mendapat tamparan keras dari Ahmad Yani. Ini adalah hasil balas dendam Suharto terhadap Ahmad Yani dan Nasution dengan memanfaatkan PKI yang mana Suharto begitu dekat dengan PKI sehingga dia berhasil masuk kedalam tubuh PKI! CIA, SUHARTO, DEWAN JENDRAL nah dari mereka ada benang merah yang berkaitan dengan peristiwa RERA! (Cobalah merunut sejarah dan jangan setengah) </p>
<p>Pagi 1 Oktober 1965 Bung Karno berada di Halim. Malam harinya ia menginap di rumah istri Dewi Soekarno di Slipi (Wisma Yaso). Pagi-pagi setelah mendapat kabar mengenai penculikan para jenderal, ia berangkat bersama ajudan Parto menuju Istana negara, namun menjelang sampai Istana, jalanan diblokade oleh tentara. Menurut ajudan, pasukan tersebut tidak dikenal, karena memang tidak ada jadwal blokade jalan menuju Istana.</p>
<p>Dalam waktu cepat Parto mengambil inisiatif dengan tidak meneruskan perjalanan ke Istana. Mungkin ia menangkap firasat bahaya jika Presiden ke Istana. Lantas Parto mengusulkan Sebaiknya ke Halim saja, pak. Kalau ada apa-apa dari Halim akan dengan cepat terbang ke tempat lain, katanya. Bung Karno menurut saja. Dalam protokoler pengamanan presiden, jika pasukan pengaman merasa presiden dalam bahaya, maka tujuan utama adalah lapangan terbang. Dengan begitu presiden bisa diterbangkan ke mana saja secara cepat. Itu asal-muasal presiden berada di Halim. Mungkin Parto (juga Bung Karno) tidak tahu bahwa para jenderal diculik dan dibawa ke Halim. Sesampainya ke Halim pun Bung Karno belum tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Baru setelah beberapa saat di Halim, beliau diberitahu oleh para pengawal. Beberapa saat kemudian ia menerima laporan dari Brigjen Soepardjo. Aidit pagi itu juga berada di Halim. Inilah keanehannya: para tokoh sangat penting berkumpul di Halim. Kalau Oemar Dhani berada di sana, itu masih wajar karena ia adalah pimpinan AURI. Tetapi keberadaan Aidit di sana sungguh mengherankan. Bung Karno dan Oemar Dhani berada di satu tempat, sedangkan Aidit berada di tempat lain sekitar Halim. Setelah Bung karno terbang ke Istana Bogor (prosesnya dirinci di bagian lebih lanjut), Aidit terbang ke Jawa Tengah.</p>
<p>Beberapa hari kemudian Aidit ditembak mati oleh Kolonel Yasir Hadibroto di Brebes, Jawa Tengah. Menurut kabar resmi Aidit ditembak karena saat ditangkap ia melawan. Tetapi menurut laporan intelijen kami Aidit sama sekali tidak melawan. Soeharto memang memerintahkan tentara untuk menghabisi Aidit, katanya. Dengan begitu Aidit tidak dapat bicara yang sebenarnya.</p>
<p>Saya lebih percaya pada laporan intelijen kami, sebab istri Aidit kemudian cerita bahwa pada tanggal 30 September 1965 malam hari ia kedatangan tamu beberapa orang tentara. Para tamu itu memaksa Aidit meninggalkan rumah. Suami saya diculik tentara, ujarnya. Setelah itu Aidit tidak pernah pulang lagi sampai ia ditembak mati di Brebes.</p>
<p>Hanya beberapa jam setelah para jenderal dibunuh sekitar pukul 11.00 WIB, 1 Oktober 1965, Presiden Soekarno dari pangkalan udara Halim mengeluarkan instruksi yang disampaikan melalui radiogram ke markas Besar ABRI. Saat itu Bung Karno hanya menerima informasi bahwa beberapa jenderal baru saja diculik. Belum ada informasi mengenai nasib para jenderal, meskipun sebenarnya para jenderal sudah dibunuh.</p>
<p>Inti instruksi Bung Karno adalah bahwa semua pihak diminta tenang. Semua pasukan harap stand-by di posisinya masing-masing. Semua pasukan hanya boleh bergerak atas perintah saya selaku Presiden dan Panglima Tertinggi ABRI. Semua persoalan akan diselesaikan pemerintah/Presiden. Hindari pertumpahan darah.</p>
<p>Demikian antara lain isi instruksi Presiden. Instruksi itu ditafsirkan Soeharto bahwa Untung dan kawan-kawan sudah kalah, karena gerakan menculik dan membunuh para jenderal tidak didukung oleh Presiden. Instruksi lantas disambut Soeharto dengan memerintahkan anak-buahnya menangkap Untung dan kawan-kawan.</p>
<p>Jelas ini membingungkan Untung. Ia sudah melapor ke Soeharto soal Dewan Jenderal yang akan melakukan kup terhadap Presiden Soekarno. Untung juga mengutarakan niatnya untuk mendahului gerakan Dewan Jenderal dengan cara menangkap mereka lebih dulu. Semua ini didukung oleh Soeharto. Bahkan Soeharto malah memberi bantuan pasukan.</p>
<p>Setelah anggota dewan Jenderal dibunuh, Soeharto malah menyuruh Untung ditangkap.</p>
<p>Mengenai soal ini saya ingat cerita Untung kepada saya saat kami sama-sama dipenjara di Cimahi. Untung dengan yakin mengatakan bahwa ia tidak akan dieksekusi meskipun pengadilan sudah menjatuhkan hukuman mati. Sebab Soeharto yang mendukung saya menghantam Dewan Jenderal. Malah kami didukung pasukan Soeharto yang didatangkan dari daerah, katanya. Teman-teman sesama narapidana politik juga tahu bahwa Untung adalah anak emas Soeharto. Tapi akhirnya Untung dihukum mati dan benar-benar dieksekusi.</p>
<p>Hampir bersamaan dengan keluarnya instruksi Presiden-mungkin hanya selisih beberapa menit kemudian &#8211; Soeharto memanggil ajudan Bung Karno, Bambang Widjanarko yang berada di Halim agar menghadap Soeharto di Makostrad. Ini mungkin hampir bersamaan waktunya dengan perintah Soeharto agar Untung dan kawan-kawan ditangkap. Di Makostrad Bambang Widjanarko diberitahu Soeharto agar Presiden Soekarno dibawa pergi dari Pangkalan Halim sebab pasukan dari Kostrad di bawah pimpinan Sarwo Edhi Wibowo sudah disiapkan untuk menyerbu Halim. okeh kawan2 berhubung saya ada ujian tengah semester satu maka nanti disambung lagi! trimakasih ! oh iya saya juga beragama tapi saya tidak pernah mendebatkannya, jangan sampai nanti kejadian Poso terulang kembali! agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku jadi tidak perlu di perdebatkan dan merasa paling benar sebab kita harus saling menghargai&#8230;.. mmm sebetulnya itulah yang diajarkan Komunis! jadi kalo kawan2 yang belum mengerti apa itu komunis janganlah  su&#8217;udzon ! wassallam! God Bless You (semoga Tuhan Menyertai Kalian Semua )</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Tips cara menghilangkan noda bekas jerawat dan flek hitam oleh cinta</title>
		<link>http://mayapadha.wordpress.com/2008/07/02/tips-cara-menghilangkan-noda-bekas-jerawat-dan-flek-hitam/#comment-117</link>
		<dc:creator>cinta</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 14:38:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mayapadha.wordpress.com/?p=41#comment-117</guid>
		<description>gMna to ben wjah bsa t&#039;bebas dri jrwt,,,,?????</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>gMna to ben wjah bsa t&#8217;bebas dri jrwt,,,,?????</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Tips cara menghilangkan noda bekas jerawat dan flek hitam oleh listra sinurat</title>
		<link>http://mayapadha.wordpress.com/2008/07/02/tips-cara-menghilangkan-noda-bekas-jerawat-dan-flek-hitam/#comment-116</link>
		<dc:creator>listra sinurat</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 16:20:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mayapadha.wordpress.com/?p=41#comment-116</guid>
		<description>ntar aku coba dech............</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ntar aku coba dech&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
