Mempertanyakan Idealisme Intelektual
Jika dalam tataran ilmu peroalan roh yang menjadi jiwa jadi pokok persoalan utama, jelas di sini tuduhan kita arahkan pada positivisme yang sekian tahun terakhir ini menghegemoni ilmu pengatahuan. Sedangkan pada tataran ilmuwannya persoalan komitmen sosial dan moral sang ilmuwan menjadi bahasan utama. Pembahasan tentang ilmuwan sosial berikut tidak akan keluar dari persoalan roh positivisme yang menjiwai ilmu sosial. Karena perilaku ilmuwan sosial tidak akan pernah bisa terlepas dari paradigma berpikir yang dianutnya.
Dengan alasan tidak ingin berkubang dalam praktek onani inteletual para ilmuwan keluar dari dunia asketisme. Mereka merambah dunia praktis dan menjadi bagian dari mesin kekuasaan. Sungguh pilihan yang bijaksana jika masuknya ilmuwan sosial ke dunia praktis dengan alasan untuk tidak sekedar berwacana. Akan tetapi dalam perjalanannya justru niatan nafsu pribadi (vesteed interest) dan mentalitas budak ilmuwan sosial kita lebih menjadi dasar tindakan.
Sampai dengan detik ini ilmuwan sosial kita tidak pernah bisa beranjak dari mentalitas budaknya. Mentalitas budak yang oleh Niethzie disebut dengan sklaven mentalitat itu membuat ilmuwan sosial harus menghamba pada kekuasaan. Pada akhirnya ilmuwan sosial hanya menjadi antek-antek penguasa, baik penguasa ekonomi, politik, sosial, maupun penguasa budaya. Menurut sosiolog Robert Brym dalam bukunya yang bertajuk Intelektual dan Politik, disebutkan bahwa semakin terserapnya kaum intelektual dalam berbagai bagian dari kekuasaan mengindikasikan tamatnya kaum intelektual.
Sikap kritis sebagai ciri khas intelektual telah hilang. Mereka tidak mampu lagi meluruskan das sein yang melenceng dari das sollen. Mentalitas budak telah mengubah tradisi akademisi kritis menjadi tradisi akademisi developmentalis, sehingga kalangan ilmuwan sosial berhenti berpikir dan berdebat kritis. Mereka mengalami kemandegan dan statisme karena tenggelam dalam derap pembangunan yang gegap gempita. Saat ini memang tidak ada bedanya ilmuwan sosial dengan WTS di Pasar Kembang. Mereka sama-sama melacur, bedanya WTS melacurkan tubuhnya sedangkan para ilmuwan sosial melacurkan ilmu pengetahuan.
Ilmuwan sosial yang karena nafsu pribadinya dan mentalitas budaknya menjadi bagian dari kekuasaan akan mengalami kemandegan, menjadi statis, cenderung pragmatis, bahkan oportunis. Sedangkan ada sebagian ilmuwan sosial yang menjaga diri dari persoalan praktis, mereka cukup bangga dengan pembahasan wacana akademik tanpa menyentuh realitas. Ilmuwan sosial semacam itu pun tidak punya kontribusi untuk membangkitkan ilmu sosial dari keterpurukan. Karena di tangannya ilmu sosial hanya akan mengawang, tidak menyentuh pokok persoalan. Bahkan cenderung konservatif dengan mengagung-agungkan klaim kebenaran universal dari teori-teori besar, sehingga sebuah paper yang membahas tentang perkembangan masyarakat belum dianggap sahih dan sembrono manakala tidak mencantumkan nama Comte.
Berangkat dari kemandegan ilmuwan sosial positivis itulah teori kritis angkat bicara. Dalam tradisi teori kritis, ilmuwan sosial tidak harus a-historis dengan cara lari dari realitas, melainkan menekankan sikap kritis. Bagi teori kritis untuk mengembangkan ilmu sosial sikap kritis tidak dapat diabaikan. Karena hanya dengan sikap kritis ilmuwan sosial dapat semakin mengetahui ke arah mana mereka berkembang dan sejauh mana mereka maju. Dapat dikatakan tradisi kritis merupakan metode untuk menjaga asketisme ilmuwan sosial, meskipun berkiprah di dunia praktis, sehingga kesahihan ilmu sosial akan tetap terjaga.