Masyarakat yang Sakit

…….mengapa umat manusia, bukannya memasuki kondisi manusia yang sejati, justru tenggelam ke dalam barbarisme baru.

Secara sadar kita merasakan bahwa saat ini masyarakat sedang dalam kondisi sakit. Dengan kata lain, masyarakat dilanda krisis multi dimensi yang menghebat. Masyarakat telah kehilangan pegangan hidup karena tumbangnya aturan sosial (social order) lama, sedangkan aturan sosial baru belum lahir. Andaikata social order yang baru telah terbentuk, pun belum kokoh untuk dijadikan pegangan hidup masyarakat. Keadaan seperti inilah yang kemudian dalam kaca surya kanta ilmu sosial sering dinamakan dengan periode anomali. Yakni suatu masa di mana masyarakat berada dalam kondisi kebingungan akibat serba ketidakpastian yang kadang-kadang membuatnya menjadi beringas.
Kebringasan sosial telah menjadi catatan tersendiri sebagai nota bukti bahwa masyarakat benar-benar sakit, dalam taraf sekarat, mungkin hampir mati. Riak-riak konflik menyeruak di tengah masyarakat. Sulit untuk dikalkulasi ongkos yang harus dibayar akibat adegan konflik yang berkepanjangan selama ini, karena tingginya intensitas konflik dan meluasnya konstituen konflik. Konflik yang marak terjadi dalam kurun waktu lima tahun terakhir telah menciptakan jutaan pengungsi yang nelangsa, ribuan anak terlantar tanpa kehidupan layak, timbulnya gelombang pengangguran, ledakan kemiskinan, dan kebodohan massal.
Liberalisasi yang dijalankan untuk menyongsong era perdagangan bebas tahun 2010 mendatang turut memperparah kondisi masyarakat yang sedang sakit ini. Di mana penjajahan terhadap alam pikiran dan kesadaran sedang terjadi, sehingga masyarakat kehilangan nalar dan otonomi pikirannya. Masyarakat yang kehilangan nalar dan otonomi pikiran oleh C. Wright Mills, anak nakalnya sosiologi Amerika Serikat yang berperspektif kritis, disebutnya sebagai robot-robot girang (cheerful robot) yang distir oleh kaum penguasa kapital, sutradara liberalisasi. Tanpa pernah disadari kalau hilangnya nalar dan otonomi pikiran menjadi persoalan serius, karena penjajahan nalar dan pikiran bekerja pada level bawah sadar. Sehingga masyarakat merasa dalam keadaan baik-baik saja, meskipun mereka selalu ditindas dan dijadikan kaum penggembira semata.


Tinggalkan Balasan