PERANG SALIB

Perang Salib terjadi pada tahun 1095 M. Tragedi ini pada dasarnya merupakan kelanjutan dari peristiwa penting dalam gerakan ekspansi yang dilakukan oleh Alp Arselan yang dikenal dengan peristiwa Manzikart, tahun 464 H (1071 M). Benih permusuhan tertanam kuat dalam diri orang-orang Kristen terhadap umat Islam akibat mereka kalah telak dalam peristiwa tersebut.

Pada tahun 471 H dinasti Seljuk mampu menambah kebencian orang-orang Kristen dengan direbutnya Bait Maqdis dari kekuasaan dinasti Fathimiyah yang berkedudukan di Mesir, ditambah lagi dengan pembuatan peraturan yang dikhususkan bagi orang Kristen yang ingin berziarah kesana. Peraturan tersebut di rasa sangat menyulitkan mereka.

Demi memperoleh kembali keleluasan dalam berziarah ketanah suci bagi umat Kristen, umat Kristen di Eropa melakukan perang suci atas seruan Paus Urbanus II yang kemudian lebih dikenl dengan Perang Salib. Perang ini berlangsung dalam tiga periode.

1. Periode Pertama

Pada musim semi tahun 1095 M., 150.000 orang Eropa, sebagian besar bangsa Perancis dan Norman, berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. Tentara Salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bohemond dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 18 Juni 1097 mereka berhasil menaklukkan Nicea dan tahun 1098 M menguasai Raha (Edessa).

Disini mereka mendirikan kerajaan Latin I dengan Baldawin sebagai raja. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan kerajaan Latin II di Timur. Bohemond dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Bait al-Maqdis (15 Juli 1099 M.) dan mendirikan kerajaan Latin III dengan rajanya Godfrey.

Setelah penaklukan Bait al- Maqdis itu, tentara Salib melanjutkan ekspansinya. Mereka menguasai kota Akka (1104 M.). Tripoli (1109 M), dan kota Tyre (1124 M). Di Tripoli mereka mendirikan kerajaan Latin IV, rajanya adalah Raymond.

2. Periode Kedua

Jatuhnya Edessa, Aleppo dan Hamimah di tangan penguasa Moshul dan Irak, Imaduddin Zanki pada tahun 1144 M dan juga Antiochea pada tahun 1149 M serta Edessa secara keseluruhan mampu menyulut kemarahan orang-orang Kristen yang berakibat berkobarnya Perang Salib ke dua.

Sepak terjang Imaduddin Zanki diteruskan oleh putranya yang bernama Nuruddin Zanki pada tahun 1146 M. Raja Perancis Louis VII dan raja Jerman Condrad II menyambut hangat seruan Paus Eugenius III untuk melaksanakan perang suci merebut wilayah Kristen di Syria, namun kegagalan masih di pihak mereka bahkan Louis VII dan Condrad II pulang ke negeri asal karena dihambat oleh Nuruddin Zanki.

Shalah al-Din al-Ayyubi yang berhasil mendirikan dinasti Ayyubi di Mesir tahun 1175 menggantikan Nuruddin Zanki sebagai pimpinan perang pada tahun 1174 akibat wafat. Yerussalem yang dikuasai oleh kerajaan Latin selama 88 tahun berakhir, merupakan suatu hasil besar dari peperangan Shalah al-Din tahun 1187 M.

Kali ini mereka benar-benar menuntut balas atas jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum muslimin, terbukti pada tahun 1189 M mereka mampu menguasai Akka di pimpin oleh Frederick Barbarossa raja Jerman, Richard the lion Hart raja Inggris dan raja Perancis Philip Augustus yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin meskipun sebelumnya mendapat tantangan kuat Shalah al-Din.

Walaupun orang-orang Kristen gagal menguasai Palestina namun mereka tetap dapat berziarah ke Bait al-Maqdis tanpa gangguan dari kaum muslim, karena terikat perjanjian tanggal 2 Nopember 1192 M antara tentara Salib dan Shalah al-Din yang di sebut Shulh al-Ramlah.

3. Periode Ketiga

Pada periode ini tentara Salib dipimpin oleh raja Jerman Frederick II berusaha merebut Mesir dahulu sebelum menguasai Palestina dengan harapan mendapat simpatik atau bantuan dari orang-orang Kristen Qibthi. Mereka berhasil menduduki Dimyat tahun 1219 M. Namun setelah menerima perjanjian Raja Mesir dari dinasti Ayyubiyah waktu itu, Frederick harus melepas Dimyat sementara al-Malik al-Kamil melepas Palestina, dengan syarat Frederic kemanan kaum muslimin di sana dan tidak mengirim bala bantuan kepada orang Kristen di Syria.

Palestina dapat direbut kembali dalam perkembangan berikutnya oleh kaum muslimin tahun 1247 M di masa pemerintahan al-Malik al-Shalih penguasa Mesir selanjutnya. Pimpinan perang dipegang oleh Baybars dan Qalawun ketika esir dikuasau oleh dinasti Mamalik pengganti posisi dinasti Ayyubiyah. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kau muslimin tahun 1291 M.

Kerugian yang tidak ternilai dialami oleh kaum muslimin akibat perang meskipun mereka berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara Salib karena terjadi di wilayah sendiri. Kerugian tersebut mengakibatkan kekuatan politik umat Islam lemah dan menjadikan mereka pecah bukan bersatu. Tidak sedikit dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di Baghdad.

Tinggalkan Balasan