Kuis SMS Berhadiah Kebutuhan atau Pembodohan?
Perjudian (gambling) adalah perilaku (bisa permainan ataupun aktivitas lainnya) yang melibatkan elemen kesempatan untuk memenangkan uang atau hadiah tertentu (Lea, Stephen, 1987; Carson & Butcher, 1992). Apa yang dipertaruhkan dapat saja berupa uang, barang berharga, atau makanan. Perjudian tidak melibatkan kerja produktif, dan penentuan hasil (menang/kalah) dipengaruhi oleh elemen kesempatan (probability). Dapat disimpulkan, kuis SMS berhadiah dapat dikategorikan sebagai perjudian.
Hasil penelitian dalam Psikologi Ekonomi tentang perilaku gambling menyebutkan adanya pola pikir manusia yang tidak rasional pada permainan lotere. Salah satu konsep yang dapat menjelaskan hal iniĀ adalah illusion of control.
Keyakinan bahwa ia mampu menjawab pertanyaan kuis dengan benar, menyebabkan peserta kuis merasa memiliki peluang yang besar untuk dapat memenangkan hadiah yang ditawarkan. Padahal pada kenyataannya, hampir semua orang juga bisa menjawab pertanyaan kuis SMS, dan probabilitas kemenangan kuis juga tidak menjadi besar.
Bagi provider yang menyelenggarakan kuis SMS berhadiah, keuntungan materi hampir dapat dipastikan akan besar. ni berbeda ketika dilihat dari sisi konsumen kuis. Kuis SMS telah membodohi masyarakat. Secara tidak sadar seseorang telah dibangkitkan illusion of control-nya dengan diberikan pertanyaan yang mudah dijawab, sehingga mampu memancing seseorang untuk mengikuti kuis SMS dengan tanpa pertimbangan yang matang. Banyaknya peserta Kuis SMS membuktikan bahwa budaya instan semakin subur. Pemirsa digiring untuk berharap sesuatu yang besar tanpa bekerja keras.
Upaya yang Perlu Dilakukan
Dampak negatif Kuis SMS berhadiah ini bisa diminimalisir dengan mengupayakan 3 alternatif. Yang pertama, penguatan kemampuan berpikir kritis seseorang. Bagaimana seseorang dapat menyadari potensinya untuk mengalami illusion of control, tetapi ia tidak mengikuti keyakinan semu-nya akan keberhasilan tanpa kerja keras. Upaya ini dapat dilakukan melalui pendidikan kritis, diawali dari lingkungan terkecil (keluarga), sekolah, masyarakat dan pemerintah untuk bersama-sama membangun suasana yang kondusif dalam membudayakan berpikir kritis.
Upaya kedua, melalui pemberian informasi dan penyadaran tentang kerugian mengikuti kuis SMS berhadiah. Informasi tersebut bisa diberikan melalui himbauan tokoh, atau kelompok-kelompok di masyarakat.
Ketiga, perlunya regulasi pemerintah tentang kuis SMS berhadiah. Regulasi ini diperlukan agar penyelenggaraan Kuis SMS Berhadiah tidak membawa dampak yang buruk bagi masyarakat. Semua alternatif tersebut bisa dilakukan, tinggal bagaimana kemauan kita? (artikel ini pernah dimuat di Harian Jawa Pos & Indo Pos tanggal 25 Agustus 2006, red.)
September 5, 2008 pada 9:14 pm
http://www.ismulhaq.com